Kamis, 07 Februari 2013

Dompet Cantik Dari Karton

Anak-anak perempuan biasanya paling suka main permainan jual-beli atau sering kita sebut dengan pasar-pasaran. Mereka berpura-pura menjual sesuatu atau membeli sesuatu dari temannya. Uangnya? Tentu uang palsu. Hehe...
Waktu saya kecil dulu, uang-uangan saya pakai dari daun tertentu atau membuat sendiri dari potongan-potongan kertas. Bagaimana dengan si kecil Anda? Apa ia juga senang bermain peran seperti ini? Tentu asyik.
Lebih asyik lagi, kalau kita menghadiahinya sebuah dompet untuk menyimpan semua "uang"nya. Tidak harus beli, lho. Kita bisa membuat sendiri!
 
Bahan & alat:
  • - kertas karton
  • - kertas kado
  • - pita
  • - double tape
  • - lem castol
  • - mika
  • - perekat dompet / kancing
  • - gunting
  • - pembolong kertas
Cara membuat:
  1. potong kertas karton menjadi 2 bagian. Untuk bagian luar, potong karton 25×12 cm. Untuk bagian dalam, potong karton 25×8 cm.
  2. lapisi karton dengan kertas kado. agar lebih rapi, gunakan double tape untuk merekatkannya.
  3. susun karton yang sudah tersampul. lalu lubangi pinggirnya (berkeliling) dengan pelubang kertas.
  4. gunting pita kecil sepanjang ±75-80 cm atau sesuai dengan keliling dompet. lalu jahitkan pita di sekeliling lubang sampai terhias pita. simpulkan ujungnya membentuk bunga atau jalinan pita yang cantik.
  5. tempelkan perekat atau kancing cetit pada dompet dengan menggunakan lem castol.
  6. hias bagian dalam dompet dengan potongan mika atau potongan kertas karton yang lebih kecil.
 
Kreatifitas ini untuk anak usia 5-10 tahun. Kembangkan keterampilan ini sesuai dengan kreativitas Anda dan si kecil.
Selamat mencoba!
 
 
Follow us on Twitter: @manfaatkertas
Instagram: kertasbermanfaat
Facebook: Kertas itu Bermanfaat (APP)

Cara Membuat Tas Kertas Kado

Anda seringkali ingin memberikan bingkisan hadiah pada sahabat atau rekan kerja Anda, namun bingung bagaimana menyajikan hadiah agar terlihat unik dan istimewa? Ingin membungkusnya dengan kertas pembungkus kado yang dijual di pasaran, kok sepertinya monoton dan membosankan. Mengapa tidak mencoba untuk berkreasi dengan kertas pembungkus kado yang ada? Cukup menambahkan tali/pita, siapkan lem dan gunting, Anda dapat menyulap kertas bermotif menjadi tas kertas yang cantik dan pasti unik sebagai bingkisan dan bonus istimewa pada kado yang Anda berikan. Pastinya sangat berkesan. Yuk, kita intip cara pembuatannya;

Alat dan Bahan:

1. Kertas motif
2. Gunting/cutter
3. Penggaris
4. Tali/Pita
5. Lem/ Double Type
6. Strapler bolong
 
Cara Membuat:

Langkah 1

Buatlah pola dengan ukuran 23 cmx 8cm x 3 cm. Kemudian cetak pola di atas kertas dengan pensil. Setelah tercetak, potong kertas ikuti alur pola dengan hati-hati, bisa menggunakan cutter/ gunting.


Langkah 2

Beri celah sepanjang bagian belakang lipatan agar dapat melipat lebih mudah. Lalu lipat sisi-sisi kertas dan rekatkan dengan lem.
 

Langkah 3

Kemudian lem dasar tas, gunakan double type agar lipatan lebih kuat.


Langkah 4
 
Bentuk lipatan di sisi kanan kiri (yang berukuran panjang), lipat dengan jarak sama. Kemudian tekan dengan lembut agar kertas tidak robek dan terdorong ke dalam dengan sempurna.



Langkah 5
 
Buatlah lubang dengan strapler lubang di bagian atas tas, kemudian pasangkan tali/pita sesuai selera. Masukkan ujung-ujung pita/tali di setiap lubang, kemudian buatlah simpul di bagian dalam tas, agar tidak terlihat dari luar dan tas terlihat lebih rapih. Anda bisa menambahkan aplikasi berupa pita, bunga atau hasil kreasi Anda di bagian tas.


Tas kreasi siap digunakan!!
 

Follow us on Twitter: @manfaatkertas
Instagram: kertasbermanfaat
Facebook: Kertas itu Bermanfaat (APP)

Kertas dengan Tampilan 3D

Seniman Rusia “Alexei Lyapunov” dan “Lena Ehrlich” membuat karya seni dari kertas dengan tampilan 3D.
 













 
Source: http://goods-inspirator.blogspot.com/2012/11/info-seni-memotong-kertas-3d-yang.html

Follow us on Twitter: @manfaatkertas
Instagram: kertasbermanfaat
Facebook: Kertas itu Bermanfaat (APP)

Jadi Miliader Berkat Sampah Daur Ulang

Dalam daftar orang terkaya di China, Forbes mencatat ada enam wanita pengusaha kaya. Sementara di daftar Amerika Serikat terdapat tujuh orang. Namun, sangat berbeda dengan wanita-wanita kaya di China yang memperoleh kekayaan berkat usahanya, wanita terkaya di AS pada umumnya memperoleh kekayaan berkat warisan keluarganya.
 
Adalah Zhang Yin, pendiri Nine Dragons Paper Industries Co, Ltd yang menempati peringkat kelima dalam daftar wanita terkaya di Cina. Dia merintis usahanya dari bisnis daur ulang kertas bekas. Hebatnya lagi, Zhang cuma perlu waktu belasan tahun untuk mengalahkan kekayaan para kampiun perempuan Barat yang namanya jauh lebih mendunia, dan melalui bisnis yang tak biasa pula.
 
Sebagai anak keluarga militer yang menetap di Heilongjiang, provinsi di kawasan utara China yang berbatasan dengan Rusia, masa kecil sulung dari 8 bersaudara ini sangat pahit. Selama Revolusi Kebudayaan yang dimulai pada 1966, ayah Zhang Yin dipenjara bersama 2 juta lebih anggota masyarakat yang dianggap kontrarevolusioner atau antek kapitalis. Baru, ketika Revolusi Kebudayaan berakhir 10 tahun kemudian, hidupnya mulai meningkat. Pada 1976 itu, ayah Zhang dibebaskan dan namanya direhabilitasi.
 
Setelah Reformasi Ekonomi diluncurkan Deng Xiaoping pada 1980-an, Zhang Yin hijrah ke Shenzen, salah satu kota di pesisir selatan yang dikembangkan untuk eksperimen kapitalisme ala China. Di Shenzen dia bekerja di perusahaan patungan di bidang perdagangan kertas. Interaksi dengan orang asing ini mendorong Zhang menyeberang ke Hong Kong pada 1985, ketika perusahaan tempat bekerjanya bangkrut. Di pulau yang waktu itu masih koloni Inggris tersebut, dia lalu mendirikan bisnis perdagangan kertas bekas. Dalam tempo singkat Hong Kong jadi kelewat kecil untuk menampung seluruh ambisi bisnis Zhang Yin yang besar. Maka, pada 1990 dia lalu pindah ke Los Angeles dan menikah dengan Liu Ming Chung, dokter gigi kelahiran Taiwan yang dibesarkan di Brasil dan fasih berbahasa Inggris. Ketika itu pasangan Zhang-Liu mendirikan America Chung Nam (ACN) pada awal 1990-an.
 
Daur ulang pasangan tersebut berkeliling AS dengan minivan Dodge butut, membujuk pusat pengumpulan sampah di seluruh negeri untuk memberikan segala macam sampah kertas kepada mereka. Kegesitan Zhang ini membuat ACN jadi pengekspor besar AS dari segi volume ketika permintaan terhadap limbah kertas meroket pada 1995, bahkan pengekspor terbesar sejak 2001.
Menguasai pasok bahan baku, pada pertengahan 1990-an itu Zhang mudik ke China untuk mendirikan Nine Dragons di Dongguan. Hanya dalam tempo satu dasawarsa, pada 2006, pabrik Nine Dragons yang besar dan modern telah berkembang jadi 11 buah, mempekerjakan 5.300 karyawan dan mendatangkan laba 175 juta dolar AS. Pada 2007, satu pabrik raksasa lagi yang dibangun di pusat industri ekspor China di kawasan Delta Sungai Yangtze, dekat Shanghai.  Keberanian Zhang terjun habis-habisan ke industri kertas berbahan baku limbah adalah berkat seorang kolega bisnis yang namanya tak dia sebutkan. "Aku ingat apa yang dia katakan waktu itu,’’ tuturnya. ’’ Dia bilang, limbah kertas itu seperti hutan. (Sebab) kertas dapat didaur ulang, dari satu ke lain generasi."
 
Yang dilakukan Zhang dengan Nine Dragonsnya persis seperti ini. Perusahaan Zhang mengirim limbah kertas dari Amerika dan Eropa, lalu mendaur ulang sampah tersebut jadi corrugated cardboard yang digunakan jadi kotak pengemas mainan, barang elektronik, dan furnitur "Made in China" dan sebagian diekspor ke Amerika dan Eropa. Maklum, dalam daftar pelanggan Zhang penuh dengan nama besar seperti Sony dan Nike. Setelah boks tadi dibuang, siklus daur ulang berjalan lagi dari awal.
 
Dengan berpindahnya pusat industri kertas dunia ke China, Zhang akan mewujudkan visinya. "Saya ingin membuat Nine Dragons, dalam 3-5 tahun, jadi pemimpin di industri containerboards," ujarnya.
 
Zhang Yin sama sekali tak merasa risi dengan julukan ratu sampah, bahkan ada rasa bangga. Dia sadar betul, bisnisnya telah menginspirasi banyak entrepreneur, termasuk dari negara lain. China kini menjadi pendaur ulang segala macam limbah, termasuk rongsokan produk elektronik yang mengandung tembaga, besi, nikel dan emas. Hal lain yang membuat Zhang Yin bangga, dari sampah dia berhasil menghimpun kekayaan sampai hampir tiga kali lipat aset yang dimiliki peringkat ke-2 jajaran Perempuan Terkaya Dunia versi Hurun Report yang diduduki Zhang Xin. (*/dari berbagai sumber)
 
 
Follow us on Twitter: @manfaatkertas
Instagram: kertasbermanfaat
Facebook: Kertas itu Bermanfaat (APP)

Memulai Hidup Baru Melalui Kertas Daur Ulang

Dulunya Arya Jumadi hidup dari mengelap kaca mobil di kawasan lampu merah dan bahkan sempat bergabung dalam suatu geng yang mengakibatkannya dipenjara. Dia mulai dapat berbaur dengan anak-anak lain setelah dimulainya proyek CEP. Kini dia telah berkembang menjadi seorang pemuda yang jujur, bertanggung jawab, dan peduli. Pemuda berusia 26 tahun ini sudah menikah dan dikaruniai seorang anak, bekerja sebagai koordinator instruktur pelatihan daur ulang kertas dan koordinator usaha produksi kertas, serta pembimbing bagi anak-anak jalanan.
 
Selama ini, para anak jalanan umumnya dipandang secara sinis, diabaikan, bahkan diperlakukan secara diskriminatif oleh masyarakat. Masyarakat kerap tidak menyadari bahwa mereka ini sebenarnya masih memiliki masa depan asalkan didukung masyarakat sepenuh hati. Mari kita ambil Yayasan Setia Kawan Raharja (SEKAR) sebagai contoh. JICA pernah bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) tersebut karena konsistensi yang telah ditunjukkan SEKAR selama ini dalam memperbaiki hidup para anak jalanan, khususnya di wilayah Jakarta Utara, dengan harapan mereka tidak perlu kembali ke jalanan lagi untuk mencari nafkah.
 
SEKAR memulai kegiatannya pada 1997 sebagai sebuah "rumah singgah" untuk para anak jalanan – sebuah proyek pilot Departemen Sosial Republik Indonesia – dan disahkan sebagai suatu badan hukum berbentuk yayasan pada 2000 oleh karena para pekerja sosial yang tergabung di dalamnya tidak ingin kegiatan pembinaan anak jalanan berakhir bersama dengan proyek pilot tersebut. Pimpinan SEKAR, Dindin Komaruddin, mengatakan bahwa ada faktor kebetulan dalam terhubungnya LSM tersebut dengan JICA. "Selain faktor kebetulan (mendapatkan informasi tentang JICA) dari temen, kami juga menilai bahwa JICA merupakan lembaga yang memperhatikan pelestarian lingkungan, sehingga kegiatan anak-anak binaan dalam mengembangkan usaha dengan cara memanfaatkan sampah dan barang bekas akan menjadi daya tarik bagi JICA."
 
Kerjasama melalui skema CEP [1] -JICA tersebut difokuskan pada pelatihan mengenai daur ulang sampah (seperti kertas bekas) dan bahan tak terpakai lainnya (seperti pelepah pisang, eceng gondok) menjadi berbagai produk yang bernilai jual (seperti kertas hias, kotak kado). Ketika ditanya mengapa SEKAR memilih usaha kertas daur ulang sebagai kegiatan utamanya, urang Sunda berusia 37 tahun tersebut menjelaskan bahwa karena hal itu bisa dilakukan oleh siapa saja. "Mereka (red: para anak jalanan) tidak memerlukan keterampilan khusus untuk mempelajarinya. Anak yang hanya lulusan SD, bahkan yang tidak sekolah pun dapat melakukannya. Selain itu juga bahan baku (kertas bekas, pelepah pisang, eceng gondok) banyak tersedia. Kemudian pasar dari hasil produk ada," jawabnya.
 
Tantangan terbesar dari usaha ini bukanlah pada peningkatan keahlian, namun peningkatan kepercayaan anak-anak ini terhadap para pembinanya serta perubahan cara berpikir mereka dari mendapatkan uang secara instan dengan cara mengemis untuk dihabiskan langsung, menjadi berniat melalui proses untuk mendapatkan penghasilan yang tetap. Dindin, ayah dari dua anak laki-laki ini, menjelaskan, "Pola pikir anak-anak jalanan terbiasa dengan pola instan. Misal untuk cuci baju aja mereka susah, ga mau, karena lebih baik beli di Pasar Senen baju bekas dan celana bekas yang harganya cuma 20 ribu daripada mereka harus mencuci baju kotor mereka. Atau lebih baik mencari uang dengan mengamen daripada bekerja yang memerlukan kedisiplinan dan tanggung jawab. Dengan 1-2 kali naik bis, mereka sudah bisa dapat uang untuk makan."
 
Personil dan sukarelawan yang tergabung dalam SEKAR menyadari bahwa mereka harus sabar dalam menghadapi para anak jalanan. Ketika proyek CEP tersebut dimulai pada 2004, mayoritas anak binaan masih turun ke jalanan untuk mendapatkan uang saku. Pada awalnya, para pembina mengatur sedemikian rupa agar anak-anak tersebut masih bisa mencari uang di jalanan pada pagi dan malam hari, dan melakukan kegiatan usaha daur ulang kertas di SEKAR pada siang dan sore hari. Namun, sedikit demi sedikit waktu mereka di jalanan berkurang dan akhirnya banyak dari 45 anak binaan berusia antara 15 dan 21 tahun tersebut memfokuskan kreatifitasnya pada kegiatan daur ulang.
Sementara itu, ketika ditanya apa yang melatarbelakangi munculnya kepedulian terhadap masalah anak jalanan, Dindin – seorang lulusan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) di Bandung (Jawa Barat) – menjawab, "Mungkin karena saya pernah tinggal dengan mereka saat saya pertama datang ke Jakarta, saat sulit dapet kerja. Lama-kelamaan timbul rasa ingin belajar dan maju bersama mereka, karena saya liat mereka pun memiliki banyak potensi yang menurut saya sangat bisa dikembangkan. Saya banyak belajar dari mereka, tentang kerja keras, rasa persaudaraan yang tinggi, dan menikmati hidup."
 
Selama dua tahun masa proyek tersebut, Dindin mengungkapkan bahwa pengalaman yang paling mengesankan baginya adalah pada saat berkeliling daerah Pantai Ancol dan Danau Sunter bersama anak-anak binaan untuk mengumpulkan bahan-bahan mentah dengan menggunakan becak yang dibeli oleh SEKAR melalui proyek CEP tersebut. "Saya pake motor, anak-anak pake becak. Kadang-kadang saya juga naik di dalam becak tersebut, anak-anak yang ngayuh. (Sembari tertawa.) Kita menjadi kompak saat mencari bahan, walaupun harus basah-basahan dengan air danau yang bau. Tapi nikmat banget." Di lain pihak, Dindin juga mengingat betapa sulit awalnya ketika belajar membuat laporan keuangan dan kegiatan untuk JICA. "Dulu saya ga ngerti tentang penyusunan rencana kerja, penyusunan laporan kegiatan, mendisain kegiatan. Tapi setelah menangani proyek JICA, saya menjadi lebih terbiasa mengerjakan hal-hal semacam itu, menjadi lebih berdisiplin waktu, berdisiplin kerja, dan lain-lain. Saya juga menjadi terbiasa melakukan presentasi di depan banyak orang yang bukan berlatar anak jalanan. (Sembari tertawa.)"
Sejak berakhirnya proyek pada 2006, sebagian dari mereka telah memulai usaha berskala kecil (secara berkelompok ataupun perorangan): memproduksi dan memasarkan kertas hias (bahkan diekspor dengan skala kecil ke Jepang), kerajinan tangan dari kertas hias, keset dari karpet bekas, dan alat-alat refleksi dari kayu bekas. Bahkan sebagian dari mantan anak-anak binaan tersebut kini telah menjadi instruktur untuk seni daur-ulang dengan berbagai target, seperti usaha kecil dan menengah (UKM), masyarakat, perusahaan, dan sebagainya. Sementara itu, "Galeri K'Qta" yang awalnya dibentuk sebagai unit usaha SEKAR untuk mengembangkan kreatifitas dan menjual produk anak-anak binaan, telah menjadi usaha mandiri yang dikelola oleh beberapa mantan anak binaan.

Contoh lain adalah Aditya, yang dulu hidup dari mengamen di jalanan dan kerap keluar-masuk SEKAR. Namun dia juga mulai menetap dengan SEKAR setelah proyek CEP tersebut dimulai dan tidak pernah meninggalkannya dalam waktu yang lama. "(Dia telah berubah) Dalam hal kemandirian, menjadi tidak tergantung lagi pada belas kasihan orang lain. Mulai bisa mengatur penggunaan keuangan yang didapat," ujar Dindin dengan penuh bangga. Kini, pemuda berusia 20 tahun itu memproduksi kertas di "Galeri K'Qta" dan bekerja sebagai anggota tim tutorial dan instruktur di Yayasan Kumala.

 
Walaupun saat ini masih terdapat banyak anak yang hidup di jalanan siang dan malam, khususnya di Jakarta, satu anak meninggalkan kehidupan tersebut saja – seperti Arya dan Aditya – sudah merupakan keberhasilan. Melalui kegiatan ini, SEKAR telah menunjukkan bahwa masih ada harapan bagi anak-anak jalanan untuk memulai hidup baru yang lebih baik.
 
Follow us on Twitter: @manfaatkertas
Instagram: kertasbermanfaat
Facebook: Kertas itu Bermanfaat (APP)
 

Rabu, 06 Februari 2013

Kertas Daur Ulang #1

Proses pembuatan kertas daur ulang ternyata tidak sulit.
  • Pertama, tentukan warna dan tekstur kertas daur ulang yang ingin dihasilkan. Jika menginginkan hasil kertas daur ulang yang bersih, putih dan halus maka gunakan kertas berjenis HVS. Jika menginginkan hasil kertas daur ulang yang berwarna gelap kecoklatan, tekstur agak kasar gunakan kertas koran.
  • Kedua, kelompokkan kertas sesuai jenisnya lalu potong kecil-kecil dan rendam semalaman agar mudah saat di blender (pembuatan bubur kertas). Saat memblender tambahkan air jika dibutuhkan, komposisi jumlah air yang diperlukan tidak ada patokan pasti. Yang penting kertas bisa hancur menjadi bubur namun tidak encer.
  • Ketiga, campurkan bubur kertas kedalam wadah cetakan yang sudah diberi campuran air dan lem. Saat inilah kita bisa menambahkan warna dan bahan campuran lainnya seperti dedaunan, pelepah pisang, bunga kering dan sebagainya sesuai keinginan dan kreativitas.
  • Keempat, aduk adonan bubur kertas hingga benar-benar rata lalu masukkan screen cetakan (screen sablon), angkat dan biarkan airnya menetes. Setelah itu pindahkan ke alas cetak dan keringkan. Proses pengeringan sebaiknya tidak dilakukan dibawah terik matahari langsung melainkan cukup diangin-anginkan saja agar kertas daur ulang yang dihasilkan tetap rata dan tidak menggulung.
  • Kelima, kertas daur ulang siap diolah menjadi produk lain.
 
Follow us on Twitter: @manfaatkertas
Instagram: kertasbermanfaat
Facebook: Kertas itu Bermanfaat (APP)

Patung Manusia Yang Terbuat Dari Kertas

Apa yang Anda pikirkan ketika melihat tubuh manusia yang seluruhnya dibangun dari kertas? Kudos pergi ke Australian architect Horst Kiechle untuk menciptakan karya seni yang menarik dan tidak lebih dari bahan kertas. Bagian geometri seperti paru-paru, usus, dan banyak lagi semuanya terbuat dari kertas dan juga bisa dilepas untuk dipelajari.
 





Source: http://artikel.hanifanews.com/2012/02/patung-manusia-yang-terbuat-dari-kertas.html

Follow us on Twitter: @manfaatkertas
Instagram: kertasbermanfaat
Facebook: Kertas itu Bermanfaat (APP)