Tampilkan postingan dengan label daur ulang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label daur ulang. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Februari 2013

Cara membuat kertas daur ulang

Bahan-bahan yang digunakan:

1.Kertas. Kertas yang didaur bisa berupa kertas koran (hasilnya nanti hitam keabuan), kertas HVS (hasilnya nanti berwarna putih), kertas buku tulis, majalah, sampul buku, karton bekas, dsb. Perlu diperhatikan bahwa kertas yang dilaminating tidak bisa digunakan karena plastiknya tidak bisa hancur ketika diblender.

2.Blender

3.Container atau baskom

4.Papan untuk alas mencetak

5.Rakel untuk meratakan cetakan (bisa lihat gambarnya di bagian "cara pembautan")

6.Plastik lembaran (untuk alas cetakan)

7.Lem sagu (lem yang dibuat sendiri dari tepung sagu. Cara membuat lem ini adalah dengan mengaduk tepung sagu di dalam air yang sedang direbus/mendidih.

8.Bahan pewarna. Bahan pewarna yang digunakan sebaiknya adalah bahan pewarna alami. Hindarilah bahan pewarna kimia karena bahan kimia biasanya mengandung logam berat, jadi bisa merusak tanah bila sisa air proses daur ulang ini dibuang ke tanah. Berikut ini adalah pewarna alami yang bisa digunakan:

a.Kunyit, menghasilkan warna kuning
b.Daun jati, menghasilkan warna merah
c.Daun pandan atau daun suji, menghasilkan warna hijau
d.Gambir, menghasilkan warna hitam
e.Pacar Cina, menghasilkan warna merah muda
f.Nila, menghasilkan warna biru

Untuk menambahkan motif kertas, bisa divariasikan dengan campuran daun suji yang diblender kasar.


CARA PEMBUATAN:

1.Rendam kertas kira-kira 24 jam untuk kertas koran, 48 jam untuk kertas putih, 4 hari untuk majalah. Berikut ini adalah gambar kertas yang sudah direndam.



2.Kertas yang sudah direndam selanjutnya diblender hingga halus seperti bubur.



3.Untuk menghemat air, bubur kertas yang diblender tadi, disaring. Jadi airnya bisa dipakai lagi untuk blender selanjutnya.




4.Campurkan bubur kertas dengan air yang telah dicampur lem sagu. Lem ini menjadikan kertas tidak mudah sobek. Dalam proses ini, lem sagu lebih baik dibandingkan Lem Putih atau Lem Kayu. Lem Putih agak berbau. Perlu diperhatikan bahwa bila lem sagu telah dicampurkan, hendaknya bubur kertas jangan dibiarkan hingga keesokan harinya karena lem ini akan basi.



5.Perkirakan sendiri tingkat keenceran campuran bubur kertas, lem sagu, dan air. Jangan terlalu tebal/tipis, dan bisa disaring.


6.Bila ingin memberi warna, bisa menambahkan pewarna alami. Sebagai contoh, bila ingin memberi warna kuning, kunyit terlebih dahulu dijus. Demikian pula bila ingin memberi warna hijau, daun pandan juga dijus.





7.Sekarang saatnya mencetak. Saring campuran tersebut dengan screen. Caranya adalah dengan merendam screen ke dalam baskom lalu diangkat.



8.Tutup dengan plastik



9.Letakkan papan di atas plastik, lalu balikkan



10.Tiriskan dan ratakan dengan rakel



11.Angkat screen (kalau langkah 10 ditiriskan hingga benar-benar kering, hasilnya makin sempurna)



12.Jemur



13.Setelah kering, selesailah proses pembuatan kertas daur ulang.



Source: http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=18802.0

Follow us on Twitter: @manfaatkertas
Instagram: kertasbermanfaat
Facebook: Kertas itu Bermanfaat (APP)

Kamis, 07 Februari 2013

Jadi Miliader Berkat Sampah Daur Ulang

Dalam daftar orang terkaya di China, Forbes mencatat ada enam wanita pengusaha kaya. Sementara di daftar Amerika Serikat terdapat tujuh orang. Namun, sangat berbeda dengan wanita-wanita kaya di China yang memperoleh kekayaan berkat usahanya, wanita terkaya di AS pada umumnya memperoleh kekayaan berkat warisan keluarganya.
 
Adalah Zhang Yin, pendiri Nine Dragons Paper Industries Co, Ltd yang menempati peringkat kelima dalam daftar wanita terkaya di Cina. Dia merintis usahanya dari bisnis daur ulang kertas bekas. Hebatnya lagi, Zhang cuma perlu waktu belasan tahun untuk mengalahkan kekayaan para kampiun perempuan Barat yang namanya jauh lebih mendunia, dan melalui bisnis yang tak biasa pula.
 
Sebagai anak keluarga militer yang menetap di Heilongjiang, provinsi di kawasan utara China yang berbatasan dengan Rusia, masa kecil sulung dari 8 bersaudara ini sangat pahit. Selama Revolusi Kebudayaan yang dimulai pada 1966, ayah Zhang Yin dipenjara bersama 2 juta lebih anggota masyarakat yang dianggap kontrarevolusioner atau antek kapitalis. Baru, ketika Revolusi Kebudayaan berakhir 10 tahun kemudian, hidupnya mulai meningkat. Pada 1976 itu, ayah Zhang dibebaskan dan namanya direhabilitasi.
 
Setelah Reformasi Ekonomi diluncurkan Deng Xiaoping pada 1980-an, Zhang Yin hijrah ke Shenzen, salah satu kota di pesisir selatan yang dikembangkan untuk eksperimen kapitalisme ala China. Di Shenzen dia bekerja di perusahaan patungan di bidang perdagangan kertas. Interaksi dengan orang asing ini mendorong Zhang menyeberang ke Hong Kong pada 1985, ketika perusahaan tempat bekerjanya bangkrut. Di pulau yang waktu itu masih koloni Inggris tersebut, dia lalu mendirikan bisnis perdagangan kertas bekas. Dalam tempo singkat Hong Kong jadi kelewat kecil untuk menampung seluruh ambisi bisnis Zhang Yin yang besar. Maka, pada 1990 dia lalu pindah ke Los Angeles dan menikah dengan Liu Ming Chung, dokter gigi kelahiran Taiwan yang dibesarkan di Brasil dan fasih berbahasa Inggris. Ketika itu pasangan Zhang-Liu mendirikan America Chung Nam (ACN) pada awal 1990-an.
 
Daur ulang pasangan tersebut berkeliling AS dengan minivan Dodge butut, membujuk pusat pengumpulan sampah di seluruh negeri untuk memberikan segala macam sampah kertas kepada mereka. Kegesitan Zhang ini membuat ACN jadi pengekspor besar AS dari segi volume ketika permintaan terhadap limbah kertas meroket pada 1995, bahkan pengekspor terbesar sejak 2001.
Menguasai pasok bahan baku, pada pertengahan 1990-an itu Zhang mudik ke China untuk mendirikan Nine Dragons di Dongguan. Hanya dalam tempo satu dasawarsa, pada 2006, pabrik Nine Dragons yang besar dan modern telah berkembang jadi 11 buah, mempekerjakan 5.300 karyawan dan mendatangkan laba 175 juta dolar AS. Pada 2007, satu pabrik raksasa lagi yang dibangun di pusat industri ekspor China di kawasan Delta Sungai Yangtze, dekat Shanghai.  Keberanian Zhang terjun habis-habisan ke industri kertas berbahan baku limbah adalah berkat seorang kolega bisnis yang namanya tak dia sebutkan. "Aku ingat apa yang dia katakan waktu itu,’’ tuturnya. ’’ Dia bilang, limbah kertas itu seperti hutan. (Sebab) kertas dapat didaur ulang, dari satu ke lain generasi."
 
Yang dilakukan Zhang dengan Nine Dragonsnya persis seperti ini. Perusahaan Zhang mengirim limbah kertas dari Amerika dan Eropa, lalu mendaur ulang sampah tersebut jadi corrugated cardboard yang digunakan jadi kotak pengemas mainan, barang elektronik, dan furnitur "Made in China" dan sebagian diekspor ke Amerika dan Eropa. Maklum, dalam daftar pelanggan Zhang penuh dengan nama besar seperti Sony dan Nike. Setelah boks tadi dibuang, siklus daur ulang berjalan lagi dari awal.
 
Dengan berpindahnya pusat industri kertas dunia ke China, Zhang akan mewujudkan visinya. "Saya ingin membuat Nine Dragons, dalam 3-5 tahun, jadi pemimpin di industri containerboards," ujarnya.
 
Zhang Yin sama sekali tak merasa risi dengan julukan ratu sampah, bahkan ada rasa bangga. Dia sadar betul, bisnisnya telah menginspirasi banyak entrepreneur, termasuk dari negara lain. China kini menjadi pendaur ulang segala macam limbah, termasuk rongsokan produk elektronik yang mengandung tembaga, besi, nikel dan emas. Hal lain yang membuat Zhang Yin bangga, dari sampah dia berhasil menghimpun kekayaan sampai hampir tiga kali lipat aset yang dimiliki peringkat ke-2 jajaran Perempuan Terkaya Dunia versi Hurun Report yang diduduki Zhang Xin. (*/dari berbagai sumber)
 
 
Follow us on Twitter: @manfaatkertas
Instagram: kertasbermanfaat
Facebook: Kertas itu Bermanfaat (APP)

Memulai Hidup Baru Melalui Kertas Daur Ulang

Dulunya Arya Jumadi hidup dari mengelap kaca mobil di kawasan lampu merah dan bahkan sempat bergabung dalam suatu geng yang mengakibatkannya dipenjara. Dia mulai dapat berbaur dengan anak-anak lain setelah dimulainya proyek CEP. Kini dia telah berkembang menjadi seorang pemuda yang jujur, bertanggung jawab, dan peduli. Pemuda berusia 26 tahun ini sudah menikah dan dikaruniai seorang anak, bekerja sebagai koordinator instruktur pelatihan daur ulang kertas dan koordinator usaha produksi kertas, serta pembimbing bagi anak-anak jalanan.
 
Selama ini, para anak jalanan umumnya dipandang secara sinis, diabaikan, bahkan diperlakukan secara diskriminatif oleh masyarakat. Masyarakat kerap tidak menyadari bahwa mereka ini sebenarnya masih memiliki masa depan asalkan didukung masyarakat sepenuh hati. Mari kita ambil Yayasan Setia Kawan Raharja (SEKAR) sebagai contoh. JICA pernah bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) tersebut karena konsistensi yang telah ditunjukkan SEKAR selama ini dalam memperbaiki hidup para anak jalanan, khususnya di wilayah Jakarta Utara, dengan harapan mereka tidak perlu kembali ke jalanan lagi untuk mencari nafkah.
 
SEKAR memulai kegiatannya pada 1997 sebagai sebuah "rumah singgah" untuk para anak jalanan – sebuah proyek pilot Departemen Sosial Republik Indonesia – dan disahkan sebagai suatu badan hukum berbentuk yayasan pada 2000 oleh karena para pekerja sosial yang tergabung di dalamnya tidak ingin kegiatan pembinaan anak jalanan berakhir bersama dengan proyek pilot tersebut. Pimpinan SEKAR, Dindin Komaruddin, mengatakan bahwa ada faktor kebetulan dalam terhubungnya LSM tersebut dengan JICA. "Selain faktor kebetulan (mendapatkan informasi tentang JICA) dari temen, kami juga menilai bahwa JICA merupakan lembaga yang memperhatikan pelestarian lingkungan, sehingga kegiatan anak-anak binaan dalam mengembangkan usaha dengan cara memanfaatkan sampah dan barang bekas akan menjadi daya tarik bagi JICA."
 
Kerjasama melalui skema CEP [1] -JICA tersebut difokuskan pada pelatihan mengenai daur ulang sampah (seperti kertas bekas) dan bahan tak terpakai lainnya (seperti pelepah pisang, eceng gondok) menjadi berbagai produk yang bernilai jual (seperti kertas hias, kotak kado). Ketika ditanya mengapa SEKAR memilih usaha kertas daur ulang sebagai kegiatan utamanya, urang Sunda berusia 37 tahun tersebut menjelaskan bahwa karena hal itu bisa dilakukan oleh siapa saja. "Mereka (red: para anak jalanan) tidak memerlukan keterampilan khusus untuk mempelajarinya. Anak yang hanya lulusan SD, bahkan yang tidak sekolah pun dapat melakukannya. Selain itu juga bahan baku (kertas bekas, pelepah pisang, eceng gondok) banyak tersedia. Kemudian pasar dari hasil produk ada," jawabnya.
 
Tantangan terbesar dari usaha ini bukanlah pada peningkatan keahlian, namun peningkatan kepercayaan anak-anak ini terhadap para pembinanya serta perubahan cara berpikir mereka dari mendapatkan uang secara instan dengan cara mengemis untuk dihabiskan langsung, menjadi berniat melalui proses untuk mendapatkan penghasilan yang tetap. Dindin, ayah dari dua anak laki-laki ini, menjelaskan, "Pola pikir anak-anak jalanan terbiasa dengan pola instan. Misal untuk cuci baju aja mereka susah, ga mau, karena lebih baik beli di Pasar Senen baju bekas dan celana bekas yang harganya cuma 20 ribu daripada mereka harus mencuci baju kotor mereka. Atau lebih baik mencari uang dengan mengamen daripada bekerja yang memerlukan kedisiplinan dan tanggung jawab. Dengan 1-2 kali naik bis, mereka sudah bisa dapat uang untuk makan."
 
Personil dan sukarelawan yang tergabung dalam SEKAR menyadari bahwa mereka harus sabar dalam menghadapi para anak jalanan. Ketika proyek CEP tersebut dimulai pada 2004, mayoritas anak binaan masih turun ke jalanan untuk mendapatkan uang saku. Pada awalnya, para pembina mengatur sedemikian rupa agar anak-anak tersebut masih bisa mencari uang di jalanan pada pagi dan malam hari, dan melakukan kegiatan usaha daur ulang kertas di SEKAR pada siang dan sore hari. Namun, sedikit demi sedikit waktu mereka di jalanan berkurang dan akhirnya banyak dari 45 anak binaan berusia antara 15 dan 21 tahun tersebut memfokuskan kreatifitasnya pada kegiatan daur ulang.
Sementara itu, ketika ditanya apa yang melatarbelakangi munculnya kepedulian terhadap masalah anak jalanan, Dindin – seorang lulusan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) di Bandung (Jawa Barat) – menjawab, "Mungkin karena saya pernah tinggal dengan mereka saat saya pertama datang ke Jakarta, saat sulit dapet kerja. Lama-kelamaan timbul rasa ingin belajar dan maju bersama mereka, karena saya liat mereka pun memiliki banyak potensi yang menurut saya sangat bisa dikembangkan. Saya banyak belajar dari mereka, tentang kerja keras, rasa persaudaraan yang tinggi, dan menikmati hidup."
 
Selama dua tahun masa proyek tersebut, Dindin mengungkapkan bahwa pengalaman yang paling mengesankan baginya adalah pada saat berkeliling daerah Pantai Ancol dan Danau Sunter bersama anak-anak binaan untuk mengumpulkan bahan-bahan mentah dengan menggunakan becak yang dibeli oleh SEKAR melalui proyek CEP tersebut. "Saya pake motor, anak-anak pake becak. Kadang-kadang saya juga naik di dalam becak tersebut, anak-anak yang ngayuh. (Sembari tertawa.) Kita menjadi kompak saat mencari bahan, walaupun harus basah-basahan dengan air danau yang bau. Tapi nikmat banget." Di lain pihak, Dindin juga mengingat betapa sulit awalnya ketika belajar membuat laporan keuangan dan kegiatan untuk JICA. "Dulu saya ga ngerti tentang penyusunan rencana kerja, penyusunan laporan kegiatan, mendisain kegiatan. Tapi setelah menangani proyek JICA, saya menjadi lebih terbiasa mengerjakan hal-hal semacam itu, menjadi lebih berdisiplin waktu, berdisiplin kerja, dan lain-lain. Saya juga menjadi terbiasa melakukan presentasi di depan banyak orang yang bukan berlatar anak jalanan. (Sembari tertawa.)"
Sejak berakhirnya proyek pada 2006, sebagian dari mereka telah memulai usaha berskala kecil (secara berkelompok ataupun perorangan): memproduksi dan memasarkan kertas hias (bahkan diekspor dengan skala kecil ke Jepang), kerajinan tangan dari kertas hias, keset dari karpet bekas, dan alat-alat refleksi dari kayu bekas. Bahkan sebagian dari mantan anak-anak binaan tersebut kini telah menjadi instruktur untuk seni daur-ulang dengan berbagai target, seperti usaha kecil dan menengah (UKM), masyarakat, perusahaan, dan sebagainya. Sementara itu, "Galeri K'Qta" yang awalnya dibentuk sebagai unit usaha SEKAR untuk mengembangkan kreatifitas dan menjual produk anak-anak binaan, telah menjadi usaha mandiri yang dikelola oleh beberapa mantan anak binaan.

Contoh lain adalah Aditya, yang dulu hidup dari mengamen di jalanan dan kerap keluar-masuk SEKAR. Namun dia juga mulai menetap dengan SEKAR setelah proyek CEP tersebut dimulai dan tidak pernah meninggalkannya dalam waktu yang lama. "(Dia telah berubah) Dalam hal kemandirian, menjadi tidak tergantung lagi pada belas kasihan orang lain. Mulai bisa mengatur penggunaan keuangan yang didapat," ujar Dindin dengan penuh bangga. Kini, pemuda berusia 20 tahun itu memproduksi kertas di "Galeri K'Qta" dan bekerja sebagai anggota tim tutorial dan instruktur di Yayasan Kumala.

 
Walaupun saat ini masih terdapat banyak anak yang hidup di jalanan siang dan malam, khususnya di Jakarta, satu anak meninggalkan kehidupan tersebut saja – seperti Arya dan Aditya – sudah merupakan keberhasilan. Melalui kegiatan ini, SEKAR telah menunjukkan bahwa masih ada harapan bagi anak-anak jalanan untuk memulai hidup baru yang lebih baik.
 
Follow us on Twitter: @manfaatkertas
Instagram: kertasbermanfaat
Facebook: Kertas itu Bermanfaat (APP)